h1

POLA PENDIDIKAN ANAK PADA KELUARGA MISKIN

November 3, 2009

Pendidikan dalam keluarga mempunyai peran yang strategis dan amat menentukan pencapaian mutu sumber daya manusia. Dalam penyelenggaraan pendidikan keluarga tidak sekedar berperan sebagai pelaksana yang bersifat rutin
dan alamiah, melainkan berperan sebagai pengelola yang bertanggung jawab dalam meletakkan landasan dan memberikan bobot dan arah serta pola-pola kehidupan anak. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana Pola Pendidikan Anak Pada Keluarga Miskin khususnya keluarga nelayan di Desa Klidang Lor, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimana Pola pendidikan anak pada keluarga miskin dan ingin mendeskripsikan motivasi cinta kasih keluarga, penanaman moral, penanaman nilai sosial, penanaman nilai keagamaan dan tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak di keluarga miskin nelayan Desa Klidang Lor Kecamatan Batang Kabupaten Batang. Subyek penelitian terdiri dari 5 (lima) keluarga nelayan di Desa Klidang Lor, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang yang berjumlah dari 15 (lima belas) informan dengan perincian 10 (sepuluh) informan orang tua yang terdiri dari 5 (lima) ayah, 5 (lima) Ibu, dan dari masing-masing pasangan diambil 1 (satu) informan anak, jadi untuk informan anak berjumlah 5 (lima) orang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan melalui beberapa tahap yaitu: reduksi data, penyajian data dan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Motivasi cinta kasih pada keluarga I, III dan IV kurang memperhatikan saat anak mengeluh sakit, saat makan, mandi, orang tua jarang membelikan oleh-oleh pada saat bepergian,
namun sebaliknya pada keluarga II dan keluarga V selalu memberikan kasih sayang dan perhatian pada anak. 2) Penanaman moral pada keluarga I, III dan IV kurang diperhatikan terutama tata krama berbicara dengan orang lain, tidak membiasakan anak berpamitan. 3) Penanaman nilai sosial pada keluarga I, III dan IV tidak menanamkan rasa kerja sama, tolong menolong secara kekeluargaan dan mengajarkan anak untuk bergaul dengan lingkungan, 4) Penanaman nilai keagamaan pada keluarga I, III, dan IV tidak pernah mengajak anak melakukan
ibadah, 5) Tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak pada 5 (lima) keluarga nelayan mendapat bantuan beasiswa sehingga dapat meringankan tanggung jawab keluarga dalam pendidikan formal, meskipun demikian dalam
kenyataannya masih banyak anak yang mengalami kegagalan putus sekolah, karena kurangnya dukungan belajar dari orang tua. Disimpulkan bahwa : 1) Pola pendidikan anak dalam keluarga miskin cenderung lebih permisif, karena orang tua selalu membiarkan segala tindakan yang dilakukan anak, cara mendidik orang tua yang permisif dapat dilihat dari kurangnya perhatian orang tua terhadap anak, orang tua tidak pernah menanamkan, mengajarkan anaknya untuk bekerjasama dengan orang lain. 2) Motivasi atau dorongan cinta kasih pada 5 (lima) keluarga miskin nelayan, dari 3 (tiga) keluarga masih kurang perhatian kasih sayang terhadap anak. 3) Penanaman
moral pada 5 (lima) keluarga sebagian besar dari 3 (tiga) keluarga kurang memberikan nasehat atau contoh kepada anaknya dalam bertingkah laku dan berbicara dengan orang lain. 4) Penanaman nilai sosial pada 5 (lima) keluarga
miskin nelayan sebagian besar dari  (tiga) keluarga nelayan cenderung tidak mengajarkan pada anak untuk saling bekerja sama, tolong menolong secara kekeluargaan dan bergaul dengan lingkungannya. 5) Penanaman nilai keagamaan pada 5 (lima) keluarga miskin nelayan sebagian besar dari 3 (tiga) keluarga nelayan tidak pernah menanamkan atau mengajarkan untuk melakukan ibadah karena orang tua jarang melakukan ibadah, 6) Tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak pada 5 (lima) keluarga miskin nelayan sebagian besar dari 3
(tiga) keluarga tidak memberikan dukungan belajar terhadap anak. Disarankan pada orang tua memberikan kasih sayang, memberikan contoh tata krama dalam berbicara dengan orang lain yang lebih tua, orang tua

disarankan memupuk kasadaran sosial membantu orang lain, bergaul dengan lingkungan sekitar, orang tua sebaiknya memberikan contoh dan menanamkan kasadaran beribadah, orang tua juga harus memberikan dukungan belajar pada anak. Disarankan pada anak untuk lebih memahami kondisi orang tua dan berusaha lebih giat dalam belajar walaupun dalam kondisi orang tua yang kurang mampu dan jangan merasa takut atau rendah diri dengan teman-temannya.

Download selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: